Memetik Manfaat Dari Kritik

Banyak di antara kita menjadi jengkel hingga marah ketika di kritik. Kita mengenggap kritik sebagai bentuk campur tangan terhadap urusan kita. Lebih gawat, ada yang karena dikritik malah menjadi kehilangan percaya diri dan malah menjadi tidak mampu melakukan hal-hal yang benar.
 Sebenarnya itu semua tak perlu terjadi. Bila dicermati, kritik biasanya datang dari orang-orang deket, misalnya istri, suami, teman dekat, saudara, orang tua dll. Umumnya mereka memiliki kepedulian pada kita sehingga tidak akan menjerumuskan. Kita mestinya juga sadar bahwa setiap orang tidak akan sempurna dan pasti memiliki kesalahan. Justru dengan adanya kritik dapat mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan lagi. Jika kesalahan sudah terjadi, kritikan lah yang menolong untuk segera memperbaiki dampak buruk yang ditimbulkan dari kesalahan tadi.
Kritik bisa kita jadikan cermin. Dalam banyak hal, kita tidak bisa melihat diri kita sendiri. Bahkan yang bersifat fisik, Seperti noda diwajah, badan bau, bubur ketek melimpah, baju kebesaran, celana sobek, ga pake celana dalam dll ( Pengalaman pribadi nih he..he..he..). Sebaliknya orang lain bisa melihatnya. Karena itu, kita sangat membutuhkan yang namanya kritikan. Bahkan orang bijakpun membutuhkan kritik untuk bisa terus menerus memperbaiki diri.
Ketika menerima kritik, kita perlu memperlihatkan, apakah ada pujian atau sisi positif yang disampaikan si pengritik. Kita tidak perlu memfokuskan perhatian pada rasa sakit ketika dikritik. Sebaliknya, kita tidak usah terlalu senang karena dipuji.
Agar kritik bermanfaat, kita tidak boleh puas dengan kritik bersifat umum. Misalnya, kritik berupa ketidaksukaan dengan sikap kita. Kita musti menanyakan tentang sikap yang dimaksudkan, alasan tidak menyukai sikap tersebut, dan tempat serta waktu kita bersikap seperti itu. Pertanyaan bukan untuk menantang, tetapi untuk memastikan kritik ini memang patut atau cuma reaksi berelebihan.
Ketika mendengarkan kritik, umumnya orang mempertapi (ngeles) sikap ini justru akan memperburuk keadaan, karena serangan kritik itu justru akan semakin gencar. Cobalah untuk awal kita untuk menyetujui kritik itu, tak peduli kritik itu benar atau salah. Dengan cara ini pengeritik lebih tenang dan lebih terbuka untuk berkomunikasi tentang hal-hal yang salah pada diri kita.
Namun, juka kritik disampaikan dengan kasar dan penuh rasa permusuhan, sebaiknya kita pusatkan pada isinya, bukan cara penyampaiannya. Jika isinya bermanfaat, jangan sia-siakan. Janganlah menolak suatu pengamatan yang bagus hanya karena penyampaiannya yang kurang menyenangkan!
Apabila kritikan bersumber dari orang tua, guru, atasan atau yang berwenang, sebaiknya kita waspada. Tapa disadari justru akan mengundang koreksi yang pedas. Karenanya, jika atasan mengritik karena kelalaian kita, sebaiknya kita segera menanggapinya dengan perbaikan. Kalo tidak, bisa-bisa ia akan mengambil langkah-langkah drastis yang lebih tidak kita harapkan.
Nah, Kalo selama ini belum pernah dapet kritikan, sebaiknya bersiap-siaplah menerimanya. ketika kritik itu datang, lebih baik berusaha mengambil manfaatnya ketimbang merasa terganggu atau sakit hati.
(sumber: Pengalaman manusia) >:D

About these ads

3 comments on “Memetik Manfaat Dari Kritik

  1. ada yang lebih penting dari kritik adalah kemampuan koreksi diri. Kadang kita juga sering mendapat kritikkan dari orang2 yang ternyata tidak mengerti dg istilah “kuman di seberang lautan keliatan tapi gajah didepan mata nggak keliatan”. Jadi menjadi ahli koreksi diri lebih baik dari pada jadi ahli koreksi orang lain. tul nggak friend…?
    Tapi jika kritik berasal dari atasan saya rasa lebih baik kita beranggapan bahwa ini adalah sebuah teguran bukan kritikan so kita tidak usah lagi berbantah-bantah dg sang bosss. entar kena pecat baru tau rasa loe..
    Yang perlu kita tanyakan sekarang apakah memang sebuah kritikkan mengandung sesuatu yang positif? jika iya..mengapa apabila kita menerima sebuah kritikkan, kita cenderung merasa tidak puas walaupun hanya sedikit!?

Silahkan Berkomentar dengan Sopan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s